Posted on Leave a comment

Sejarah Kain Beludru dan Perbedaannya dengan Suede

Kain beludru sering disamakan dengan kain suede. Secara kasat mata orang awam memang kedua kain ini memiliki kemiripan. Tampak warnanya tegas dan memiliki kilau jika dilihat dari sudut tertentu. Bahkan penggunaannya tidak jauh berbeda antara keduanya. Namun karakteristik dan kualitasnya berbeda satu sama lain.

Sebagai konsumen dan calon konsumen harus dapat mengenali perbedaan kedua kain ini supaya bisa menentukan fungsinya masing-masing. Untuk digunakan sebagai bahan pembuat pakaian atau dekorasi tentu membutuhkan kualitas berbeda dari setiap kain. Sebab berhubungan dengan kenyamanan pemakainya. Berikut adalah perbedaan antara beludru dan suede.

Sejarah Kain Beludru

Jika melihat film kolosal eropa kita akan akrab dengan penggunaan jubah atau pakaian kebesaran raja dan ratu berbahan beludru. Begitu juga di kehidupan nyata pada jaman dahulu. Sejak dikenal keberadaannya kain ini hanya digunakan oleh bangsawan dan tokoh-tokoh kerajaan saja. Sebab harganya tidak terjangkau rakyat biasa.

Meskipun terkenal sebagai pakaian kebesaran raja-raja Eropa nyatanya beludru tidak berasal dari Eropa. Kain ini justru diproduksi oleh orang timur. Ditemukan terlebih dahulu di China sejak berabad lalu. Bulu pada kain tidak tercukur dengan rapi menandakan karakteristik peninggalan kebudayaan timur.

Semakin menguatkan bahwa beludru pertama kali dibuat oleh orang timur termasuk China. Setelah dikenalkan kepada bangsa Eropa, permintaan terhadap kain ini semakin meningkat. Maka semakin banyak pedagang China menjualnya ke wilayah Eropa. Jalur perdagangan ini kemudian dikenal dengan jalur sutera.

Pembuatan beludru di China masing menggunakan manual dengan peralatan sederhana yang dibuat sendiri. Pabrik produsen beludru pertama di dunia justru didirikan di Italia. Kain ini disusun oleh dua kain ganda menggunakan peralatan khusus. Benang yang masuk pada proses pembuatan tidak hanya satu tetapi dua sekaligus.

Dengan begitu dua potongan tersebut dapat menyatu satu sama lain. Pada bagian bawah dikunci menggunakan set benang yang berbeda. Pemotong akan membelah kedua benang tersebut menjadi dua bagian. Benang terpotong tersebut akan menjadi tumpukan bulu-bulu pada permukaan kain. 

Tidak berhenti sampai disitu, bulu-bulu tersebut nantinya akan dipotong untuk memastikan panjangnya sama. Setelah didapatkan panjang bulu yang sama pada permukaan kain barulah dicelup ke dalam pewarna kain. Pewarna tekstil digunakan secara khusus untuk menjaga kualitas bulu pada kain yang dihasilkan. 

Dalam perawatannya beludru harus ekstra hati-hati. Sebab terdapat bulu halus pada permukaan kainnya akan cepat rusak jika dicuci menggunakan sikat. Jika mengharuskan menyikat sebaiknya dilakukan searah  secara perlahan. Untuk menghilangkan noda membandel cukup menggunakan detergen dan air hangat tanpa menyikat.

Kain Beludru Vs Kain Suede

Beludru terbuat dari serat sintetis sedangkan suede terbuat dari kulit bagian dalam kemudian dibalik. Beludru jika dibakar akan sangat mudah sedangkan suede sulit dibakar karena merupakan bahan alami. Suede akan menghasilkan bau seperti kulit dan rambut terbakar. 

Beludru lebih nyaman digunakan di daerah tropis seperti Indonesia karena bahannya adem, halus dan menyerap keringat. Tidak menimbulkan gerah dan keringat berlebih. Sedangkan suede terbuat dari kulit yang memiliki sifat menahan panas. Biasa digunakan untuk daerah subtropis yang lebih dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *